Menyelamatkan Bahasa Daerah Lewat Karya Ilmiah

0

Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat desa, kota, tua, maupun muda menggunakan bahasa sebagai alat berkomunikasi untuk pelbagai keperluan dan kepentingan. Sangat pantas jika kita mengatakan bahwa bahasa sebagai urat nadi dan kebutuhan primer manusia.

Indonesia merupakan salah satu negara yang mempunyai jumlah bahasa terbanyak di dunia. Penelitian yang dilakukan oleh Summer Institute of Linguistics pada tahun 2006 mencatat setidaknya terdapat 741 bahasa (Huri, 2010, hlm. 2). Setiap bahasa yang ada di daerah atau provinsi di Indonesia memiliki ciri dan dialek tersendiri, dan setiap bahasa di daerah tersebut disebut dengan bahasa daerah.

Salah satu karya ilmiah tentang bahasa Bajawa.
Foto. Dok

Keberadaan bahasa daerah menunjukkan keberadaan atau identitas suatu suku yang ada di negara Indonesia, karena salah satu fungsi bahasa daerah adalah sebagai lambang identitias dan jati diri. Misalnya, masyarakat Ngada yang tinggal di Ende namun tetap menggunakan bahasa Bajawa dalam kesehariannya. Maka masyarakat di sekelilingnya dapat mengidentifikasi bahwa mereka berasal dari Ngada tanpa harus diberitahu. Begitu pula dengan seseorang yang berbicara bahasa Ende dan atau Lio di Ngada, tanpa diberitahu orang yang ada disekitarnya sudah tahu bahwa orang tersebut berasal dari Ende, seseorang yang berbicara bahasa Bajawa di Maumere, masyarakat di sekitarnya sudah pasti tahu bahwa orang tersebut berasal dari Ngada. Semua itu diidentifikasi dari bahasa yang digunakan.

Dalam bahasa Indonesia kita sering mendengar pepatah ‘Bahasa Menunjukkan Bangsa’. Pepatah tersebut memiliki makna bahwa suku atau etnis tertentu dapat diidentifikasi melalui bahasa yang mereka gunakan, juga melalui nama depan maupun nama belakang seseorang. Namun pepatah tersebut tidak selamanya tepat, karena banyak penutur bahasa daerah yang tidak berasal dari daerah bahasa yang digunakan. Hal itu terjadi karena berbagai faktor, seperti faktor keturunan, dan lingkungan tempat tinggal.

Salah satu skripsi tentang bahasa Bajawa.
Foto. Dok

Persaingan bahasa daerah dengan bahasa Indonesia dan bahasa asing dalam kehidupan masyarakat zaman modern dapat diibaratkan sebagai perang, di mana bahasa daerah mengalami kekalahan. Sehingga tidak banyak masayarakat yang bangga menggunakan bahasa daerah. Tidak heran jika ada masyarakat yang masih mempertahankan bahasa daerah atau berbicara dengan aksen daerah akan menjadi bahan bullying teman-teman sepergaulannya.

Meskipun kedudukan bahasa daerah diakui oleh UU sebagai bagian dari kebudayaan nasiaonal. Namun pada kenyataannya bahasa daerah sering dikesampingkan oleh kebanyakan masyarakat yang tinggal di perkotaan yang telah banyak dipengaruhi oleh kemajuan dibidang teknologi. Banyak pula dijumpai orang tua yang tidak lagi mengajarkan bahasa daerah kepada anak-anak mereka, yang pada akhirnya penutur bahasa daerah semakin berkurang. Padahal selain sebagai lambang identitas dan jati diri, penggunaan bahasa daerah dalam kehidupan sehari hari juga memiliki beberapa kelebihan, seperti kemudahan dalam menyampaikan maksud dan isi pembicaraan.

Salah satu karya ilmiah tentang bahasa Bajawa.
Foto. Dok

Berbeda dengan bahasa Indonesia dan bahasa asing yang harus memilih kata yang tepat agar apa yang disampaikan bisa dimengarti oleh lawan bicara. Kelebihan atau keunggulan lain dari penggunaan bahasa daerah adalah tumbuhnya ikatan batin antara pembicara dengan yang diajak berbicara, sehingga suasana menjadi lebih nyaman.

Kemajuan dibidang teknologi seperti media massa, game online, dan media sosial seperti facebook, twitter, instagram, path, whats app, juga telah menjangkiti anak-anak yang berada pada rentang usia sekolah dasar. Salah satu dampak negatif yang ditimbulkan dari kemajuan teknologi ini adalah memudarnya rasa cinta terhadap bahasa daerah sendiri. Anak-anak mulai terbiasa menggunakan bahasa-bahasa asing yang terdapat dalam media sosial tersebut, yang mengakibatkan hilangnya beberapa kosakata dalam bahasa kita, yaitu bahasa Indonesia dan bahasa daerah.

Jika keadaan seperti ini terus berlanjut maka akan ada ancaman serius terhadap eksistensi bahasa daerah, yaitu loyalitas penutur terhadap bahasa daerah akan terus mengalami penurunan. Kondisi ini perlu diatasi guna melestarikan bahasa daerah kita yang kita miliki. Untuk mengantisipasi hal-hal yang telah disebutkan di atas, maka diperlukan kepedulian kita semua untuk terus menjaga warisan budaya dan khazanah bahasa terutama bahasa daerah di manapun kita berada.

Pentingnya melestarikan bahasa daerah karena adanya hubungan timbal balik antara bahasa daerah dengan bahasa Indonesia, seperti yang dikemukakan oleh Muslich (2010, hlm. 10) “bahasa Indonesia hidup berdampingan dengan bahasa bahasa daerah”. UUD 1945 juga menegaskan bahwa “Negara menghormati dan memilihara bahasa daerah sebagai kekayaan budaya nasional”. Jadi, dengan menjaga dan melestarikan bahasa daerah, berarti telah menjaga salah satu dari banyaknya budaya yang ada di Indonesia.

Untuk melestarikan bahasa daerah, dapat dilakukan dengan beberapa cara. Penelitian ilmiah tentang bahasa daerah oleh para mahasiswa/i khususnya bagi mereka yang memprogram jurusan bahasa dan sastra Indonesia maupun Inggris yang akan memprogram tugas akhir di bangku kuliahnya adalah merupakan salah satu cara untuk melestarikan bahasa daerahnya.

Melalui cara itu, maka keharusan untuk melestarikan serta mengembangkan bahasa daerah yang diamanatkan UU dapat terwujud. Keharusan ini tertuang dalam penjelasan UUD 1945 Bab XV pasal 36 yang berbunyi “Di daerah-daerah yang mempunyai bahasa sendiri, yang dipelihara, oleh rakyatnya dengan baik-baik, maka bahasa-bahasa itu akan dihormati dan dipelihara juga oleh Negara.

Sehubungan dengan penjelasan UUD 1945, bahasa Bajawa sebagai salah satu bahasa daerah yang masih hidup dan masih dipakai oleh masyarakat Ngada perlu dipelihara dan dibina sehingga akan berfungsi sesuai dengan kedudukannya selaku bahasa daerah.

Kajian-kajian ilmiah bahasa dan sastra yang berkaitan dengan bahasa Bajawa:

1. Semantic Meaning Of Slangs Used By The Youth Of Ngada by Laurensius Nodhe. English Letters Study Program – Faculty of Language And Literature – Flores University. Ende 2017.
2. Kajian Linguistik Bahasa Bajawa-Ngadha oleh Even Tangi. Sekolah Tinggi Filsafat Katholik Ledalero.
3. Kajian Semiotik Peribahasa Dalam Bahasa Bajawa, Nilai Kepemimpinan dan Relevansinya Dengan Pembelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Menengah Atas oleh Veronica Moy Guterres. Fakultas Keguruan dan Ilmu Keguruan – Universitas Sebelas Maret. Surakarta 2017.
4. Penelitian Tentang Sastra Mantra Ka Maki Loka dan Su’i Pada Pesta Reba Masyarakat Bajawa Kabupaten Ngada Untuk Pembentukan Karakter Anak Melalui Pembelajaran Bahasa Indonesia di SMA oleh Ferdinandus Dy. Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Sekolah PascaSarjana-Sekolah Pendidikan Indonesia. Bandung 2015.
5. Sastra Lisan Ngadha di Bajawa oleh Firmina Angela Nai, Watu Yohanes Vianey, Fransiskus Sanda, Alex A. Kabelen. Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta 1999.

Leave A Reply

Your email address will not be published.