Atas Usulan Pemda Melalui Disparbud Ngada Tarian Ja’i Diinventarisasi Menjadi Warisan Budaya Nasional oleh Tim Balai Pelestarian Nilai Budaya

0
Tim Balai Pelestarian Nilai Budaya sesuai melakukan perekaman film dokumentasi tarian ja’i di kampung adat Bena.
(Foto. Dok)

VISITNGADA. Tim Balai Pelestarian Nilai Budaya Bali wilayah kerja Bali, NTB dan NTT yang diwakili oleh Drs. I Made Sumerta, Dra. Niluh Ari Ani dan I Gusti Ayu Agung Sumarheni, S.Sn melakukan inventarisasi karya budaya tarian ja’i di Kabupaten Ngada. Kegiatan inventarisasi ini dilakukan dalam bentuk perekaman tarian ja’i serta penggalian segala informasi mengenai tarian ja’i, pendataan, pencatatan dan kegiatan FGD (Focus Group Discussion) bersama para tokoh budaya Ngada dari beberapa wilayah adat Ngadha, seperti Bajawa, Jerebu’u, dll agar memperoleh referensi yang akurat tentang tarian ja’i.

Para tokoh budaya Ngadha dalam kegiatan FGD inventarisasi tarian ja’i.
(Foto. Dok)

Kegiatan inventarisasi yang dilakukan oleh tim Balai Pelestarian Nilai Budaya Bali ini terwujud berkat usulan Pemda Ngada melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan agar warisan leluhur masyarakat adat Ngada berupa tarian ja’i dijadikan warisan budaya nasional.

Para tokoh budaya Ngadha dalam kegiatan FGD inventarisasi tarian ja’i.
(Foto. Dok)

Pencatatan karya budaya yang khas berupa tarian ja’i yang dimiliki oleh Kabupaten Ngada ini diinventarisir, dicatat dan ditulis sebagai sebuah laporan bahan usulan ke Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan agar dapat ditetapkan sebagai warisan budaya nasional yang seterusnya tidak diklaim oleh daerah-daerah lain. “Misalnya orang Ngada yang merantau ke Kupang atau daerah lain dan disana mereka biasa menarikan tarian ja’i, lama kelamaan, beberapa generasi kedepan, tarian ja’i akan berkembang diluar Ngada dan tidak menutup kemungkinan akan diklaim oleh daerah lain dimana tarian ja’i itu berkembang”, kata I Made Sumerta.

Para tokoh budaya Ngadha dalam kegiatan FGD inventarisasi tarian ja’i.
(Foto. Dok)

Upaya ini juga nantinya akan berdampak pada sasaran pengalokasian anggaran yang tepat dari pusat ke daerah. “Jika tarian ja’i ini tidak diinventarisir agar dapat ditetapkan menjadi warisan budaya nasional yang berasal dari Kabupaten Ngada, pasti suatu saat daerah lain akan dapat mengklaimnya, jika ini terjadi, maka tidak menutup kemungkinan pengalokasian anggaran dari pusat untuk melestarikan tarian ja’i akan dialokasikan ke daerah yang mengklaimnya”, lanjut I Made Sumerta.

Leave A Reply

Your email address will not be published.